Kamis, 29 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Daerah
Daerah

Ancaman Karhutla di Tanjung Puting: Kobaran Api Berjarak 600 Meter dari Feeding Camp Orang Utan

✍️ Rian Haryanto 🕒 22 Oct 2026 👁️ 3x dibaca
Ilustrasi kebakaran di Taman Nasional (TN) Tanjung Puting
Ilustrasi kebakaran di Taman Nasional (TN) Tanjung Puting Foto: istimewa

KOTAWARINGIN BARAT — Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP), Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, memasuki fase yang semakin mengkhawatirkan. Pergerakan si gundul membara kini dilaporkan semakin mendekati area titik pemberian makan (feeding camp) orang utan, dengan jarak tersisa diperkirakan hanya sekitar 600 meter dari lokasi konservasi satwa dilindungi tersebut.

Tim gabungan yang terdiri dari petugas Balai Taman Nasional Tanjung Puting (BTNTP), Manggala Agni, BPBD, TNI-Polri, hingga jajaran relawan lokal saat ini dikerahkan penuh untuk menahan laju lidah api. Upaya pemadaman dan pembatasan pergerakan api (sekat bakar) terus dituntut berjalan ekstra cepat guna mencegah kehancuran habitat inti serta menghindarkan populasi orang utan Kalimantan dari bahaya paparan asap pekat dan kehilangan tempat tinggal alami mereka.

Kondisi di lapangan semakin diperberat oleh faktor cuaca ekstrem dan topografi wilayah. Lahan gambut yang kering akibat kemarau panjang, ditambah dengan hembusan angin kencang yang arahnya kerap berubah-ubah, membuat titik-titik api baru bermunculan dan menyebar secara cepat. Vegetasi semak belukar yang mongering dengan cepat terbakar, menjadi bahan bakar alami yang mempercepat pergerakan api menuju kawasan tempat berkumpulnya orang utan.

Petugas penanggulangan bencana di lapangan harus berpacu dengan waktu di tengah keterbatasan akses air dan sulitnya menembus medan gambut yang tebal. Dalam banyak titik, air di kanal-kanal sekitar mulai menyusut dramatis, memaksa personel membawa peralatan pemadam portabel menembus hutan rimbun guna menjangkau kepala api.

Guna meminimalkan dampak buruk terhadap satwa endemik tersebut, jajaran BTNTP bersama para mitra konservasi mengintensifkan patroli serta pengawasan melekat di sekitar jalur feeding camp. Pengawasan ini dilakukan untuk memastikan orang utan tidak terjebak di area yang terkepung asap tebal maupun kobaran api. Jika situasi kian mendesak, opsi evakuasi darurat atau pemindahan sementara satwa ke area yang lebih aman siap dijalankan sesuai kriteria keselamatan satwa.

Upaya penanganan di lapangan berfokus pada pemblokiran jalur api (firebreak) agar tidak sampai menyeberang atau menembus ke zona inti konservasi. Jarak 600 meter dari feeding camp dinilai sangat krusial dan berisiko tinggi apabila tidak segera ditanggulangi dengan pemadaman intensif.

Mengenai situasi terkini dan teknis penanganan karhutla di kawasan TNTP tersebut, pihak berwenang memberikan konfirmasi dan penjelasan resmi terkait posisi api serta langkah-langkah darurat yang sedang diambil oleh tim pemadam.

(Catatan: Kutipan langsung di bawah ini dipertahankan secara utuh tanpa mengubah susunan kata aslinya).

"Jarak api dengan titik feeding camp orang utan saat ini kurang lebih tinggal 600 meter. Kami dari tim gabungan terus berupaya maksimal melakukan pemadaman darat agar api tidak sampai masuk dan merusak area feeding camp serta habitat orang utan," ujar salah satu petugas pemadam di lokasi kejadian.

Selain pemadaman darat, koordinasi dengan pihak penanggulangan bencana tingkat provinsi dan pusat terus dilakukan untuk mempertimbangkan bantuan pemadaman dari udara (water bombing). Keberadaan helikopter bom air sangat dibutuhkan terutama untuk menjangkau titik api di bagian dalam gambut yang sulit diakses oleh jalur darat manusia.

Petugas juga menyampaikan kendala utama yang dialami personel di tengah hutan gambut Tanjung Puting yang terbakar.

"Kendala utama di lapangan adalah keterbatasan sumber air dan angin yang bertiup cukup kencang, sehingga api sangat cepat merambat. Kami mengimbau kepada seluruh masyarakat agar tidak ada lagi yang membuka lahan dengan cara dibakar karena dampaknya sangat merusak ekosistem dan mengancam kehidupan satwa lindung kita," tambahnya.

Taman Nasional Tanjung Puting merupakan salah satu cagar biosfer terpenting di dunia yang menjadi benteng pertahanan terakhir bagi kelestarian orang utan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Selain orang utan, kawasan seluas ratusan ribu hektar ini juga menjadi rumah bagi berbagai flora dan fauna langka lainnya, seperti bekantan, beruang madu, serta bermacam spesies burung endemik Kalimantan.

Feeding camp atau stasiun pemberian makan merupakan fasilitas penting di dalam taman nasional yang berfungsi sebagai tempat pemantauan kesehatan, rehabilitasi, dan penunjang pakan bagi orang utan yang sedang dalam proses adaptasi maupun orang utan liar yang menghuni sekitar kawasan tersebut. Kerusakan pada feeding camp tidak hanya akan menghancurkan infrastruktur fisik konservasi, tetapi juga memutus rantai pemantauan populasi dan mengganggu kestabilan suplai makanan satwa-satwa tersebut.

Kebakaran hutan di kawasan gambut memiliki karakteristik unik yang sangat berbahaya. Api tidak hanya membakar pepohonan dan semak di permukaan (surface fire), tetapi juga merayap di bawah tanah gambut (ground fire). Hal ini menyebabkan asap tebal beracun terus membubung meskipun di permukaan tampak api sudah padam. Asap pekat yang dihasilkan dari kebakaran gambut mengancam sistem pernapasan satwa huni, menyebabkan dehidrasi, serta berpotensi memicu disorientasi arah pada orang utan yang berusaha menyelamatkan diri.

Seiring berjalannya proses pemadaman, pihak pengelola taman nasional juga memperketat pintu masuk bagi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Langkah pembatasan ini diambil demi keselamatan pengunjung serta untuk memberikan ruang gerak yang lebih leluasa bagi armada pemadam kebakaran dan tim evakuasi satwa.

Masyarakat yang bermukim di sekitar pinggiran kawasan Taman Nasional Tanjung Puting diimbau untuk tetap waspada dan secara aktif melaporkan jika melihat munculnya titik asap baru. Kerjasama antara pemerintah, aparat penegak hukum, organisasi non-pemerintah (NGO) lingkungan, serta warga sekitar menjadi kunci utama dalam menyelamatkan ekosistem Tanjung Puting dari kebinasaan akibat bencana karhutla tahunan ini.

RH
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update