Karya Kebanggaan Kalsel, Film Pirunduk Siap Gentayangi Layar Lebar Mulai 22 Oktober
Industri perfilman nasional kembali disemarakkan oleh lahirnya karya sinema yang berakar kuat pada tradisi dan kebudayaan daerah. Film horor terbaru bertajuk Pirunduk, yang merupakan hasil karya sineas dan talenta asal Kalimantan Selatan (Banua), dipastikan siap menyapa seluruh pencinta film di bioskop se-Indonesia mulai 22 Oktober mendatang. Pengangkatan kisah urban legend lokal ini menjadi angin segar bagi kebangkitan sineas daerah untuk tampil di panggung nasional.
Kesiapan penayangan film ini ditandai dengan digelarnya acara gala premiere yang mendapat sambutan hangat serta respons antusias dari jajaran penonton dan penikmat film di Kalimantan Selatan. Karya yang disutradarai oleh Billy Christian ini tidak hanya menonjolkan sensasi horor semata, melainkan juga membawa identitas kebudayaan Banjar yang sangat pekat ke hadapan publik luas.
Istimewanya, produksi film Pirunduk didominasi oleh partisipasi aktif dan kontribusi nyata dari sumber daya manusia lokal Kalimantan Selatan. Mulai dari jajaran pemeran utama dan pendukung hingga tim teknis di belakang layar, sebagian besar merupakan talenta kelahiran tanah Banua yang mengeksekusi seluruh tahapan pengambilan gambar secara langsung di wilayah Kalimantan Selatan.
Kehadiran film ini dinilai menjadi momentum penting untuk membuktikan bahwa karya berbasis kearifan lokal memiliki daya saing tinggi di industri sinema nasional. Keterlibatan komunitas lokal yang dominan juga mempertegas komitmen para pembuatnya dalam menyajikan atmosfer cerita yang otentik dan memiliki nilai historis maupun kebudayaan yang kuat.
Produser film Pirunduk, Budi, mengungkapkan rasa bangganya atas terwujudnya proyek sinema yang sarat akan unsur lokalitas Kalimantan Selatan ini. Ia menegaskan bahwa proyek ini merupakan representasi nyata dari potensi besar yang dimiliki oleh anak-anak daerah.
"Film Pirunduk ini adalah sebuah film yang menurut saya kebanggaan masyarakat Kalimantan Selatan. Ceritanya mengangkat kisah urban legend di Tanah Banjar. Kemudian hampir 95 persen pemainnya adalah asli orang Banjar, kru-nya 60 persen asli orang Banjar, dan lokasi syutingnya semuanya di Tanah Banjar. Jadi ini benar-benar film orang Banua," kata Budi, Senin (19/10/2026).
BACA JUGA
Budi menambahkan bahwa dukungan serta dorongan dari masyarakat setempat sangat berharga bagi keberlanjutan industri kreatif lokal. Kehadiran penonton di bioskop menjadi bentuk apresiasi tertinggi bagi seluruh tim yang telah bekerja keras mewujudkan film tersebut.
Selain itu, antusiasme masyarakat yang terlihat sejak awal peluncuran menjadi indikator positif bagi penerimaan film Pirunduk di pasar bioskop Indonesia secara luas. Pihak pembuat film menyampaikan rasa syukur atas sambutan hangat yang telah diberikan oleh para pencinta film.
"Respon para pencinta film Indonesia sangat positif. Kami juga sangat bersyukur respons masyarakat Banjarmasin khususnya, Kalimantan Selatan pada umumnya, sangat positif terhadap film Pirunduk yang hari ini kami menggelar gala premiere," katanya.
Secara narasi, Pirunduk mengangkat mitos dan cerita mistis yang telah lama berkembang di tengah masyarakat Banjar. Alur ceritanya membawa penonton untuk mendalami cerita rakyat Kalimantan Selatan yang kaya akan nuansa misteri, tradisi, serta nilai-nilai kehidupan lokal yang diturunkan secara temurun.
Dengan penayangan yang dilakukan secara serentak di berbagai jaringan bioskop tanah air, Pirunduk diharapkan mampu menjadi representasi kebudayaan Banua di tingkat nasional. Lebih dari sekadar sarana hiburan horor, penayangan film ini diharapkan dapat terus memicu semangat para sineas muda daerah lainnya untuk berani mengangkat kekayaan cerita rakyat Indonesia ke layar lebar.
