Penyelamatan Satwa Terdesak Karhutla: BKSDA Sampit Evakuasi 4 Orang Utan dalam 3 Bulan
KOTAWARINGIN TIMUR — Gelombang kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menerjang wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, mengancam keselamatan berbagai satwa langka yang dilindungi. Dalam kurun waktu tiga bulan terakhir, sejak Agustus hingga Oktober 2026, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Pos Sampit mencatatkan keberhasilan menyelematkan setidaknya empat individu orang utan yang terjebak di sekitar kawasan terdampak kebakaran maupun yang keluar mendekati permukiman warga.
Komandan BKSDA Pos Sampit, Muriansyah, mengonfirmasi intensitas penanganan konflik antara manusia dan satwa liar serta aksi penyelamatan yang melonjak seiring maraknya titik api di wilayah tersebut. Krisis pakan akibat rusaknya vegetasi hutan menjadi penyebab utama satwa primate berukuran besar tersebut terpaksa merambah hingga ke area perkebunan masyarakat.
"Sejak Agustus, September, hingga Oktober ini, Pos Sampit berhasil melakukan kegiatan penyelamatan empat individu orang utan," ujar Muriansyah.
Evakuasi tersebut dilakukan di beberapa lokasi berbeda yang tersebar di wilayah Kotawaringin Timur. Salah satu aksi penanganan yang memakan waktu lama terjadi pada pertengahan Oktober 2026, ketika tim gabungan menyelamatkan seekor orang utan betina yang bertahan di atas pohon setinggi 10 meter di sekitar lahan bekas terbakar di kawasan Jalan Tjilik Riwut. Proses penyelematan di area gambut bekas terbakar membutuhkan kehati-hatian ekstra agar satwa tidak terjatuh atau mengalami cedera fisik akibat paparan trauma dan panas.
Kerusakan habitat akibat kobaran api yang menghanguskan ruang gerak satwa membuat orang utan kehilangan tempat beralung dan sumber nutrisi harian. Ketiadaan makanan di habitat asli memicu keberadaan mereka kian dekat dengan ruang aktivitas manusia. Kondisi ini meningkatkan potensi perjumpaan satwa liar dengan warga local yang berisiko memicu ancaman keselamatan bagi kedua pihak.
Menanggapi fenomena masuknya orang utan ke area kebun dan permukiman, pihak BKSDA terus menghimbau warga setempat untuk senantiasa menahan diri dan tidak mengambil tindakan sepihak yang melanggar hukum maupun membahayakan keselamatan satwa. Kerjasama aktif masyarakat dalam memberikan informasi keberadaan satwa dipandang sangat krusial dalam mempercepat penanganan evakuasi.
Muriansyah meminta masyarakat segera melaporkan temuan orang utan di sekitar tempat tinggal atau perkebunan kepada petugas. Warga juga diminta menghindari tindakan yang dapat membahayakan satwa tersebut.
"Jika ada yang melihat orang utan bisa melapor kepada kami. Jangan sekali-kali mencoba menangkap mereka," tegasnya.
Isu keselamatan fauna endemic ini menjadi sorotan penting di tengah kondisi darurat bencana kabut asap yang menyelimuti Kotawaringin Timur. Pemerintah daerah beserta BKSDA Kalimantan Tengah dan berbagai yayasan mitra penyelamatan satwa mengintensifkan patrol penanganan serta memperpanjang kesiapsiagaan di lapangan.
Langkah pencegahan terus ditingkatkan seiring keputusan pemerintah menetapkan perpanjangan status tanggap darurat bencana karhutla di daerah. Peningkatan kewaspadaan difokuskan tidak hanya pada sektor penanggulangan dampak kesehatan warga, tetapi juga perlindungan terhadap keanekaragaman hayati yang kian terancam.
"Perpanjangan status tersebut membuat kewaspadaan terhadap dampak karhutla perlu terus ditingkatkan, tidak hanya untuk melindungi masyarakat dari paparan asap, tetapi juga untuk menjaga keselamatan," pungkasnya.
Upaya penyelamatan yang dilakukan BKSDA Pos Sampit menegaskan pentingnya penanganan komprehensif terhadap karhutla di Kalimantan Tengah. Tanpa adanya pemulihan dan pemeliharaan kawasan hutan gambut secara berkelanjutan, konflik satwa dan kemunculan satwa lindung di lingkungan pemukiman diprediksi akan terus terjadi setiap kali musim kemarau dan bencana kebakaran melanda.
