Bencana Karhutla Ketapang: 4 Orangutan Dievakuasi dalam Kondisi Kritis dan Kelaparan
Ketapang, Kalimantan Barat — Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menerjang wilayah Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, menelan korban dari satwa yang dilindungi. Tim gabungan berhasil mengevakuasi empat individu orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus) yang terjebak di tengah sisa-sisa kebakaran hutan. Keempat orangutan tersebut ditemukan dalam kondisi memprihatinkan akibat kehilangan ruang hidup serta sumber pakan alami mereka.
Proses evakuasi darurat yang dijalankan oleh Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) bersama pihak terkait mendapati bahwa keempat primata endemic Kalimantan tersebut menderita dehidrasi parah, malnutrisi, hingga luka fisiknya. Identifikasi satwa melingkupi dua orangutan remaja betina bernama Lusi dan Riri, serta satu pasangan induk-anak yakni Mama Rian dan Rian.
Penyelamatan pertama menyasar Lusi dan Riri di area High Conservation Value (HCV) PT KALE, Desa Laman Satong. Saat ditemukan petugas, Lusi berada di puncak sebatang pohon yang tersisa di tengah lahan yang telah rata tanah hangus terbakar. Tim medis yang menangani langsung di lokasi melaporkan adanya trauma psikologis dan kelaparan hebat pada satwa tersebut.
Kondisi Lusi dikonfirmasi langsung oleh pihak penangung jawab medis YIARI saat melakukan tindakan pertama di lapangan. CEO YIARI sekaligus dokter hewan satwa liar, Karmele Llano Sanchez, mengatakan Lusi ditemukan dalam kondisi sangat kurus dan mengalami stres berat. Ia menduga orangutan tersebut telah berhari-hari kesulitan mendapatkan makanan karena habitatnya rusak akibat kebakaran.
“Orangutan Lusi terlihat sangat stres dan sangat kurus. Mungkin sudah berapa hari tidak dapat makanan apa pun di hutan yang sudah hancur ini,” ujar Karmele, Minggu (18/10/2026).
Pemeriksaan medis lanjutan memperlihatkan penderitaan fisik yang cukup parah pada tubuh Lusi. Ditemukan deretan luka goresan serta luka terbuka berukuran dalam pada bagian punggung, bibir, sampai area anus. Dugaan awal tim medis menyebutkan bahwa luka-luka infeksi tersebut timbul akibat gigitan satwa lain seperti anjing saat orangutan berusaha menyelamatkan diri. Selain luka fisik, Lusi mengalami dehidrasi berat hingga membutuhkan penanganan penstabilan cairan dengan segera.
Tidak jauh dari titik evakuasi Lusi, tim penyelamat menemukan Riri di atas pohon kelapa sawit. Riri ditemukan menyendiri dalam kondisi ketakutan dan kekurangan cairan tubuh tanpa hadirnya induk di sekitarnya. Keberadaan Riri yang terpisah dari induknya menjadi perhatian serius para pakar konservasi, mengingat anak orangutan usia muda umumnya bergantung penuh dan hidup berdampingan dengan induk mereka hingga berumur 6 sampai 7 tahun.
Di lokasi terpisah, yaitu di Desa Riam Berasap yang berjarak sekitar 1,5 kilometer dari batas perkebunan, tim penyelamat merespons kemunculan Mama Rian dan anaknya, Rian. Keduanya terpaksa merambah hingga masuk ke perkebunan warga akibat area hutan tempat tinggal mereka sudah musnah terbakar. Pemeriksaan fisik awal mengonfirmasi kondisi tubuh pasangan induk dan anak ini amat kurus akibat krisis pangan yang melanda habitatnya.
Kerusakan ekosistem di wilayah tersebut tergolong massif berdasarkan pemantauan data udara. Hasil analisis citra satelit periode 1 Agustus hingga 25 September 2026 mencatat lebih dari 90 persen area HCV PT KALE telah habis terbakar. Padahal, kawasan hutan konservasi privat tersebut merupakan salah satu kantong populasi penting bagi keberlangsungan hidup orangutan Kalimantan. Kajian ilmiah tahun 2016 mencatat wilayah HCV ini dihuni sedikitnya 150 individu orangutan dengan tingkat kepadatan 5,49 individu per kilometer persegi.
Amblasnya benteng habitat memicu gelombang evakuasi satwa secara meluas di Kalimantan Barat. Sepanjang kurun waktu 6 Agustus hingga 10 Oktober 2026, YIARI mencatat setidaknya 51 individu orangutan telah dievakuasi dari kawasan Kabupaten Ketapang serta Kabupaten Kayong Utara. Dari total jumlah tersebut, sebanyak 30 individu dievakuasi langsung dari dalam maupun area sekitar perkebunan PT KALE.
Hingga saat ini, 27 individu orangutan yang diselamatkan dari krisis karhutla di sekitar area perkebunan tersebut masih menjalani proses perawatan intensif dan medis lanjutan di pusat rehabilitasi YIARI Ketapang. Sementara itu, pemantauan ketat di lapangan masih berlanjut guna mengantisipasi maraknya interaksi negatif antara warga dan orangutan yang terdesak mencari makan hingga ke pemukiman penduduk.
