Polda Kalbar Terjunkan 300 Personel ke Ketapang Demi Percepat Penanganan Karhutla
Kepolisian Daerah Kalimantan Barat (Polda Kalbar) secara resmi mengambil langkah taktis berskala besar dengan menerjunkan 300 personel Bantuan Kendali Operasi (BKO) ke Kabupaten Ketapang. Pengerahan ratusan pasukan tambahan ini dilakukan guna membentengi wilayah tersebut dari eskalasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang belakangan kian mengkhawatirkan. Fokus utama dari penempatan pasukan ini adalah mempercepat proses pemadaman di titik-titik krusial yang sulit dijangkau sekaligus menekan laju perluasan area lahan yang terbakar.
Langkah cepat yang diambil oleh jajaran kepolisian tingkat regional ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan dalam mengoptimalkan Operasi Aman Nusa II. Mengingat karakteristik geografis Kabupaten Ketapang yang luas serta didominasi oleh lahan gambut, kehadiran tambahan personel terlatih sangat dibutuhkan di lapangan guna membantu satuan tugas (satgas) lokal yang sudah lebih dulu berjibaku menghadapi pekatnya kabut asap dan ganasnya si jago merah.
Komposisi Pasukan dan Titik Fokus Pemadaman
Berdasarkan data operasional, gelombang pasukan yang dikirimkan ke wilayah selatan Kalbar ini terdiri atas unsur-unsur pilihan dari korps kepolisian. Sebanyak 100 personel ditarik dari Direktorat Samapta Polda Kalbar, sementara 200 personel lainnya merupakan kekuatan inti dari Satuan Brigade Mobil (Satbrimob) Polda Kalbar. Kombinasi kekuatan taktis dan pengendali massa ini disiapkan untuk menghadapi berbagai medan ekstrem di lokasi kebakaran.
Dalam arahannya saat memimpin apel kesiapsiagaan di halaman Mapolres Ketapang, otoritas setempat menegaskan bahwa Kecamatan Kendawangan ditetapkan sebagai wilayah prioritas utama. Wilayah ini disinyalir menyumbang konsentrasi titik panas (hotspot) paling signifikan dibandingkan wilayah lainnya di Kabupaten Ketapang. Sebagian besar dari 300 personel BKO tersebut langsung disebar ke titik-titik strategis di Kendawangan agar pergerakan pemadaman darat bisa berjalan lebih masif dan terstruktur.
Sinergi Lintas Sektor dan Kendala Lapangan
Operasi penanggulangan bencana karhutla di Ketapang tidak hanya bertumpu pada Korps Bhayangkara seorang diri. Operasi pemadaman ini dijalankan melalui kolaborasi terpadu yang melibatkan Tentara Nasional Indonesia (TNI), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Manggala Agni, serta partisipasi aktif dari unsur elemen masyarakat setempat. Sinergi lintas instansi ini dinilai krusial mengingat luasnya cakupan areal yang terbakar menuntut pembagian tugas yang efektif, mulai dari pembuatan sekat bakar hingga pendinginan sisa bara api.
Kendati demikian, tim gabungan di lapangan tidak menepis kenyataan bahwa mereka harus menghadapi berbagai tantangan berat. Salah satu hambatan paling mendasar yang dirasakan oleh satgas darat adalah minimnya ketersediaan sumber air bersih di sekitar lokasi kebakaran. Kondisi cuaca panas yang berkepanjangan membuat sumber-sumber air alternatif di dekat lahan gambut mengering, sehingga mobilisasi suplai air membutuhkan waktu dan strategi tersendiri agar proses pemadaman tidak terhenti.
Peringatan Tegas dan Imbauan kepada Publik
Menanggapi maraknya insiden kebakaran yang terjadi, aparat penegak hukum bersama pemerintah daerah tidak henti-hentinya menyampaikan seruan moral sekaligus peringatan keras kepada masyarakat luas. Berdasarkan analisis di lapangan, sebagian besar insiden kebakaran lahan diindikasikan kuat bermula dari aktivitas manusia.
“Sekarang ini kenapa ada asap, karena ada api. Kenapa ada api, pasti ada yang membakar. Untuk di Ketapang, titik terbanyak ada di Kecamatan Kendawangan,” ujar Bupati Ketapang Alexander Wilyo, seperti yang dirilis dalam laporan lapangan.
Pernyataan tersebut dipertegas kembali oleh Kapolres Ketapang AKBP Putra Pratama yang secara khusus meminta segenap warga agar menghentikan segala bentuk pembukaan lahan dengan cara membakar.
“Saya minta kepada seluruh masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran,” tegasnya.
Pihak berwenang memastikan bahwa penegakan hukum tanpa kompromi akan diterapkan kepada pihak-pihak, baik perorangan maupun korporasi, yang sengaja melakukan pembakaran hutan dan lahan demi kepentingan sesaat. Di sisi lain, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan mandiri, segera melaporkan jika melihat tanda-tanda kemunculan api sekecil apa pun, serta memanjatkan doa bersama agar musim hujan dapat segera turun secara merata guna membantu memadamkan sisa-sisa titik panas yang masih tersisa di bumi Ketapang.
