Rabu, 28 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Ekonomi
Ekonomi

BI: Dampak Karhutla Kalbar terhadap Ekonomi Hanya 0,013 Persen

✍️ Winda Sari 🕒 30 Sep 2026 👁️ 8x dibaca
Bank Indonesia mencatat dampak karhutla terhadap aktivitas ekonomi regional hanya sekitar 0,013 persen, sementara kondisi ekonomi dan kualitas udara mulai kembali normal.
Bank Indonesia mencatat dampak karhutla terhadap aktivitas ekonomi regional hanya sekitar 0,013 persen, sementara kondisi ekonomi dan kualitas udara mulai kembali normal. Foto: istimewa

kalbarbagus.com-Bank Indonesia (BI) menilai kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan Barat belum memberikan pengaruh besar terhadap aktivitas perekonomian regional.

Berdasarkan asesmen BI, dampak karhutla terhadap aktivitas ekonomi tercatat sekitar 0,013 persen, sehingga dinilai belum cukup untuk mengubah kondisi perekonomian secara umum.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Balikpapan Robi Ariadi mengatakan, pengaruh karhutla terhadap perekonomian masih relatif kecil.

“Kalau asesmen kami, tidak berdampak secara signifikan terhadap ekonomi, hanya 0,013 persen. Jadi kecil sekali, sangat kecil,” ujar Robi di KPwBI Balikpapan, Selasa (29/09/2026).

Menurut Robi, kegiatan ekonomi di sejumlah wilayah Kalimantan, termasuk Pontianak, masih berlangsung secara normal. Kondisi karhutla dan kabut asap juga belum menyebabkan perubahan status perekonomian regional.

“Kalau di Kalimantan malah tidak masuk sama sekali. Tidak sampai kemudian mengubah statusnya. Semuanya masih status waspada normal, tidak sampai waspada siaga,” jelasnya.

Kualitas Udara Pontianak Mulai Membaik

Robi menyebut kondisi di Pontianak mulai menunjukkan perbaikan seiring berkurangnya dampak kabut asap dan meningkatnya kualitas udara.

Sebelumnya, BI turut melakukan langkah antisipasi dengan menerima sekitar 80 pengungsi asal Kalimantan Barat bersama keluarga mereka sejak awal September 2026.

Setelah sekitar tiga pekan menjalani masa pengungsian, kondisi udara disebut mulai membaik. Nilai Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) juga telah berada di bawah angka 100.

“Sekarang sudah mulai teratasi dampaknya. Secara umum tidak berdampak,” katanya.

Meski karhutla sempat mengganggu aktivitas masyarakat di sejumlah wilayah, BI menilai pengaruhnya terhadap perekonomian secara keseluruhan masih terbatas.

Cuaca dan Harga Pangan Tetap Perlu Dipantau

Di tengah kondisi tersebut, faktor cuaca masih menjadi perhatian karena dapat berpengaruh terhadap ketersediaan dan harga pangan.

Musim kemarau berpotensi memengaruhi produksi sejumlah komoditas pangan yang pada akhirnya dapat memberikan tekanan terhadap inflasi. Karena itu, perkembangan cuaca dan kondisi pasokan pangan tetap perlu menjadi perhatian.

BI menilai perbaikan kualitas udara dan tetap berjalannya aktivitas ekonomi menjadi indikator bahwa dampak karhutla terhadap perekonomian Kalimantan sejauh ini masih relatif kecil.

Namun, pemantauan terhadap kondisi cuaca, distribusi pangan, serta potensi tekanan inflasi tetap diperlukan untuk mengantisipasi perubahan kondisi ekonomi ke depan. 

WS
Winda SariEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update