Rabu, 28 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Daerah
Daerah

BMKG Ingatkan Kalbar Waspada Banjir dan Longsor Saat Musim Hujan 2026-2027

✍️ Winda Sari 🕒 07 Oct 2026 👁️ 8x dibaca
Kepala Satgas Informasi Bencana BPBD Provinsi Kalimantan Barat, Daniel, yang menjadi salah satu Narasumber acara “Kentongan” RRI Pro 1 Pontianak, Selasa, 6 Oktober 2026.
Kepala Satgas Informasi Bencana BPBD Provinsi Kalimantan Barat, Daniel, yang menjadi salah satu Narasumber acara “Kentongan” RRI Pro 1 Pontianak, Selasa, 6 Oktober 2026. Foto: istimewa

kalbarbagus.com – Sejumlah wilayah Kalimantan Barat mulai memasuki musim hujan. Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, hujan lebat, hingga angin kencang.

Analis Meteorologi dan Klimatologi Ahli Madya BMKG Stasiun Klimatologi Kalimantan Barat, Muhammad Elifant Yuggotomo, mengatakan sebagian wilayah Kalbar, terutama bagian tengah hingga utara, mulai memasuki musim hujan.

Hal tersebut disampaikannya dalam acara “Kentongan” RRI Pro 1 Pontianak, Selasa (6/10/2026).

“Secara umum awal musim hujan di Kalimantan Barat masuk pada September hingga Oktober, sedangkan wilayah selatan seperti Ketapang bagian selatan diprediksi baru memasuki musim hujan sekitar pertengahan November,” ujar Muhammad.

Menurutnya, musim hujan Kalimantan Barat 2026-2027 secara umum diperkirakan berada pada kondisi normal hingga atas normal.

Puncak musim hujan diprediksi berlangsung pada Desember hingga Januari.

Meski demikian, masa peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan tetap perlu diwaspadai. Perubahan cuaca tersebut dapat disertai hujan berintensitas tinggi, petir dan angin kencang yang berpotensi memicu bencana.

“Masyarakat dihimbau selalu waspada. Ketika kita memprediksi normal, bukan berarti hujannya sedikit. Normalnya bisa dengan kondisi curah hujan yang tinggi,” katanya.

559 Desa dan Kelurahan Berpotensi Banjir

Kepala Satgas Informasi Bencana BPBD Provinsi Kalimantan Barat, Daniel, menyebut terdapat 559 desa dan kelurahan di Kalbar yang memiliki potensi terdampak banjir.

Wilayah rawan tersebut tersebar di seluruh kabupaten dan kota di Kalimantan Barat.

“Jangan menunggu sudah terjadi banjir. Pemerintah kabupaten dan kota harus melakukan kesiapsiagaan di daerah masing-masing,” ujar Daniel.

Selain banjir, sejumlah ancaman lain juga perlu diantisipasi, seperti banjir bandang, angin puting beliung serta tanah longsor atau tanah bergerak.

Daniel menjelaskan, curah hujan tinggi bukan satu-satunya faktor yang meningkatkan risiko banjir.

Kerusakan lingkungan, berkurangnya daerah resapan air dan kondisi drainase yang tidak memadai juga dapat memperparah dampak ketika hujan turun dengan intensitas tinggi.

Karena itu, masyarakat diminta melakukan langkah sederhana sejak sebelum curah hujan semakin meningkat, salah satunya membersihkan parit dan saluran air di sekitar tempat tinggal.

“Jadi harus ada kepedulian terhadap lingkungan. Mulai bersihkan parit-parit di sekitar rumah, selokan dan lain sebagainya,” katanya.

Warga Diminta Kenali Lokasi Evakuasi

BPBD Kalbar juga mendorong pemerintah daerah memastikan lokasi evakuasi tersedia sebelum bencana terjadi.

Kesiapsiagaan juga perlu diperkuat hingga tingkat kecamatan, kelurahan dan desa agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat apabila terjadi bencana.

Masyarakat diimbau mengenali potensi bencana di wilayah masing-masing, menyiapkan langkah mitigasi serta mengetahui lokasi evakuasi yang dapat digunakan ketika kondisi darurat.

Jika bencana terjadi, warga juga diminta segera melaporkannya kepada kepala desa atau camat agar dapat segera ditindaklanjuti pemerintah.

Ketapang Selatan Masih Waspada Karhutla

Di tengah meningkatnya ancaman bencana hidrometeorologi basah, BMKG juga mengingatkan bahwa sebagian wilayah selatan Kalimantan Barat belum sepenuhnya memasuki musim hujan.

Ketapang bagian selatan diperkirakan baru memasuki musim hujan sekitar pertengahan November.

Kondisi tersebut membuat kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih diperlukan di wilayah yang masih mengalami periode kering.

Perubahan ancaman bencana dari hidrometeorologi kering menuju basah membutuhkan kesiapsiagaan bersama.

Kolaborasi pemerintah daerah, BPBD, BMKG, aparat, relawan dan masyarakat dinilai penting untuk mengurangi risiko bencana selama periode musim hujan 2026-2027.

WS
Winda SariEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update