Gandeng TNI hingga Masyarakat Adat, ASP Group Sambas Sukses Nihilkan Titik Api Karhutla
KalbarBagus.com — Kolaborasi intensif antara sektor swasta, TNI-Polri, pemerintah daerah, dan lembaga adat di Kabupaten Sambas membuahkan hasil positif. ASP Region Sambas (meliputi PT Rana Wastu Kencana, PT Karya Boga Mitra, dan PT Karya Boga Kusuma) mengonfirmasi bahwa kondisi area perkebunan perusahaan maupun lahan warga di sekitarnya berada dalam status aman, terkendali, serta bebas dari titik api (hotspot).
Capaian tersebut dipaparkan dalam agenda sosialisasi pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada Rabu (16/9/2026). Kegiatan ini melibatkan unsur Pemda Sambas, BPBD, Manggala Agni Daop Singkawang, Polsek Tebas, Polsek Subah, Tim Penyuluh Mabes TNI, jajaran pemerintah desa, hingga kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA).
General Manager Plantation (GMP) ASP Group Regional Sambas, Andreas Utaryo, menegaskan bahwa sosialisasi ini difokuskan untuk meningkatkan kesadaran publik di tengah ancaman kemarau panjang El Nino.
“Kami sengaja melibatkan unsur masyarakat dalam kegiatan sosialisasi ini, sebagai upaya meningkatkan peran masyarakat secara luas dalam menjaga lingkungan dari bahaya karhutlai. selain itu sebagai sarana mengedukasi bagaimana secara bersama-sama menjaga agar tak terjadi karhutla ditengah Elnino yang sekarang melanda seluruh dunia termasuk di Kabupaten Sambas,” kata Andreas Utaryo, Rabu (16/9/2026).
“Kami dengan masyarakat, terus berkolaborasi menjaga kondisi hutan dan lahan dengan cara, koordinasi, mendeteksi, menganalisa potensi karhutla disekitar wilayah kerja PT RWK, KBM, dan KBK. Jadi bagaimana kita menjaga. Artinya jangan sampai dari hal-hal yang kecil ini menjadi besar,” katanya.
Siagakan 115 Personel dan 18 Menara Pantau 24 Jam
Guna menunjang pemantauan dan mitigasi cepat di lapangan, pihak perusahaan menyiagakan regu pemadam karhutla sebanyak 115 personel yang telah dibekali peralatan pemadam standar ISPO perkebunan kelapa sawit. Infrastruktur fisik berupa 18 unit menara pantau api, 1 unit mobil damkar, serta embung air juga difungsikan secara optimal.
“Ini menjadi komitmen kami dalam rangka menjaga, jangan sampai nanti muncul titik api. Jadi penanganannya sementara dari hal-hal yang kecil ini, dari hal- hal yang kecil kami melihat sehingga tim bergerak. Jadi sementara ini kondisi di sekitar kebun perusahaan dan milik masyarakat sekitar kerja ASP Region Sambas yakni di wilayah kerja PT RWK, KBM, KBK dalam kondisi aman dan terkendali,” katanya.
“Tim kami hampir 24 jam kerja melakukan pemantauan di 18 pos. Kemudian kami berkoordinasi dengan desa-desa, dusun sekitar , terkait informasi. Kalau ada melihat titik-titik api atau hotspot, itu wajib disampaikan dan siap bergerak," tambah Andreas.
Apresiasi Tim Mabes TNI dan Langkah Otoritas Kecamatan
Ketua Tim Penyuluh Mabes TNI, Brigjen TNI Albert B Tiranda, mengapresiasi keaktifan pihak perusahaan dan seluruh pemangku kepentingan. Dari pemantauan langsung sesuai instruksi Panglima TNI, tren titik api di wilayah Sambas terus menunjukkan penurunan signifikan.
“Kami berharap kondisi titik api tidak ada sehingga seluruh aktivitas masyarakat bisa normal,” katanya.
“Kami akan terus melakukan penyuluhan sehingga titik api benar benar nihil di wilayah Kabupaten Sambas,” katanya.
Dukungan senada diutarakan Kasi Trantib Kecamatan Tebas, Biandi. Menurutnya, koordinasi ketat antara kecamatan, kepolisian, TNI, dan MPA terbukti berhasil menekan intensitas kebakaran hingga mencapai angka nihil.
“Kami di pihak Kecamatan juga ikut berkontribusi bersama-sama dengan instansi terkait lainnya, seperti kepolisian dan TNI, MPA dalam angka mengendalikan api di titik-titik api yang ada di wilayah Kecamatan Tebas,” katanya.
“Kedepannya, bagaimana pemerintah kecamatan dan pihak terkait lainnya membuat program untuk mencegah supaya karhutla tidak terulang kembali, termasuk memasang spanduk imbauan ke sejumlah titik,” katanya.
Imbauan dan Pendekatan Persuasif Tokoh Adat
Dari kalangan masyarakat adat, Kepala Benua Tampang Laut Kecamatan Tebas, Petrus Atan, menyatakan kesiapan jajarannya untuk terus berkoordinasi menjaga wilayah yang berbatasan langsung dengan area perkebunan PT RWK, KBK, dan KBM.
“Apapun bentuknya mereka harus bersedia untuk membantu mengawasi di lingkungan sekitar, termasuk di lingkungan PT RWK, KBK dan KBM yang memang berdekatan dengan wilayah Benua Tampang Laut. Sehingga tak sampai terjadi karhutla,” katanya.
Sementara itu, tokoh masyarakat adat Desa Maribas, Bernadus Atun, menegaskan pentingnya edukasi secara langsung kepada warga guna menghindari sanksi hukum dan dampak buruk kebakaran.
“Kami tidak henti-hentinya door to door ke masyarakat, kemudian menyampaikan imbauan saat ada acara maupun pesta, jika pembakaran itu sangat membahayakan karena banyak dampak negatifnya dirasakan masyarakat,” katanya.
“Bersyukur, dengan apa yang dilakukan, karhutla di wilayahnya tak sampai terjadi,” katanya.
