Rabu, 28 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Ekonomi
Ekonomi

Harga Minyak Indonesia Tembus US$112,81 per Barel, Konflik Timur Tengah Tekan Pasokan Global

✍️ Winda Sari 🕒 14 Oct 2026 👁️ 5x dibaca
Kapal minyak di Selat Hormuz, dekat Bandar Abbas, Iran.
Kapal minyak di Selat Hormuz, dekat Bandar Abbas, Iran. Foto: istimewa

kalbarbagus.com - Harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) melonjak menjadi US$112,81 per barel pada September 2026. Kenaikan sebesar US$23,38 dibandingkan bulan sebelumnya ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran terhadap kelancaran pasokan energi dunia.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan ICP September melalui Keputusan Menteri ESDM Nomor 395.K/MG.03/MEM.M/2026. Penetapan tersebut disampaikan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaeman di Jakarta, Senin (12/10).

“Rata-rata ICP bulan September 2026 yang melonjak naik menjadi US$112,81 per barel merupakan cerminan dari dinamika pasar minyak global yang dipengaruhi oleh tingginya ketidakpastian geopolitik dan meningkatnya risiko gangguan pasokan (supply disruption risk). Kenaikan ini terjadi secara menyeluruh pada seluruh benchmark internasional,” kata Laode.

Lonjakan harga minyak berpotensi meningkatkan tekanan terhadap biaya pengadaan energi, sektor industri, dan transportasi. Pengaruhnya terhadap masyarakat Indonesia juga bergantung pada nilai tukar rupiah, biaya pengolahan dan distribusi, serta kebijakan pemerintah mengenai harga bahan bakar minyak (BBM), subsidi, dan kompensasi.

Selat Hormuz Jadi Titik Rawan Pasokan Minyak

Salah satu jalur yang menjadi perhatian pasar energi global adalah Selat Hormuz, perairan di antara Iran dan Oman yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab.

Badan Informasi Energi Amerika Serikat (U.S. Energy Information Administration/EIA) mencatat, rata-rata sekitar 20,9 juta barel minyak dan produk cair minyak melintasi Selat Hormuz setiap hari pada semester pertama 2025. Jumlah tersebut setara dengan sekitar seperlima konsumsi minyak dan produk cair minyak dunia serta sekitar seperempat perdagangan minyak melalui laut.

Besarnya volume pengiriman menjadikan selat tersebut sebagai jalur strategis dalam rantai pasok energi internasional. Gangguan keamanan, penundaan pelayaran, maupun peningkatan biaya pengangkutan dapat memengaruhi pasokan dan mendorong perubahan harga minyak di pasar global.

Menurut Laode, eskalasi konflik militer dan kebuntuan diplomasi, terutama yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran, meningkatkan risiko keamanan pelayaran di kawasan tersebut. Ekspor minyak mentah melalui jalur itu bahkan sempat turun hingga 28 persen dibandingkan Juli.

Infrastruktur Energi Ikut Terdampak

Tekanan terhadap pasar minyak juga dipengaruhi risiko gangguan pada infrastruktur energi. Laode menyebut Pipa East-West Arab Saudi yang memiliki kapasitas tujuh juta barel per hari sempat ditutup sementara sebagai langkah pencegahan setelah terjadi serangan drone.

Perkembangan tersebut menambah kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan terganggunya distribusi minyak dari kawasan produsen utama. Ketika jalur pelayaran dan fasilitas energi menghadapi risiko keamanan, pasar dapat merespons dengan memperhitungkan kemungkinan berkurangnya pasokan.

Kenaikan ICP pada September 2026 pun menunjukkan bahwa dinamika geopolitik dapat memengaruhi harga minyak Indonesia melalui pergerakan harga acuan internasional. Perkembangan harga berikutnya akan turut dipengaruhi situasi keamanan di Timur Tengah, kelancaran pengiriman, dan keseimbangan pasokan serta permintaan minyak dunia.

WS
Winda SariEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update