Rabu, 28 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Ekonomi
Ekonomi

Hilirisasi Minerba Jadi Strategi Indonesia Dorong Pertumbuhan Ekonomi

✍️ Winda Sari 🕒 29 Sep 2026 👁️ 7x dibaca
Penguatan kinerja pertumbuhan ekonomi Indonesia membutuhkan motor baru yang mampu menghasilkan nilai tambah lebih besar dari sekadar industry ekstraktif.
Penguatan kinerja pertumbuhan ekonomi Indonesia membutuhkan motor baru yang mampu menghasilkan nilai tambah lebih besar dari sekadar industry ekstraktif. Foto: istimewa

KalbarBagus.com-Hilirisasi sektor mineral dan batu bara (minerba) terus didorong sebagai salah satu strategi Indonesia untuk menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru. Kebijakan ini diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri sekaligus memperkuat industri nasional dari hulu hingga hilir.

Deputi Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Elen Setiadi mengatakan Indonesia memiliki modal sumber daya alam yang besar untuk mendukung peningkatan pertumbuhan ekonomi. Potensi tersebut, menurutnya, perlu diolah melalui kebijakan yang terintegrasi agar memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas.

“Untuk mencapai pertumbuhan yang lebih tinggi, diperlukan sumber pertumbuhan baru. Indonesia memiliki sumber daya alam yang besar, dan melalui kebijakan yang terintegrasi, potensi tersebut dapat dioptimalkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujarnya dalam sebuah forum diskusi di Jakarta.

Pengembangan hilirisasi dinilai penting karena selama ini sejumlah komoditas tambang masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah. Dengan proses pengolahan di dalam negeri, komoditas tersebut dapat menghasilkan produk dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi sekaligus memperluas aktivitas industri nasional.

Salah satu contoh terlihat pada pengembangan industri berbasis nikel. Kebijakan hilirisasi telah mendorong terbentuknya industri pengolahan yang menghasilkan berbagai produk, mulai dari feronikel hingga bahan baku untuk baterai kendaraan listrik. Perubahan tersebut membuat komoditas nikel Indonesia tidak lagi sekadar berada pada tahap awal rantai pasok.

Pengembangan industri baterai juga menjadi bagian dari proses tersebut. Indonesia kini memiliki fasilitas produksi baterai milik Indonesia Battery Corporation (IBC) di Karawang. Kehadiran fasilitas tersebut menunjukkan pengembangan sumber daya nikel dapat dilanjutkan menuju produk hilir yang mendukung industri kendaraan listrik.

Selain nikel, pengembangan rantai industri bauksit hingga aluminium juga menjadi contoh hilirisasi sumber daya mineral. Ekosistem bauksit-alumina-aluminium di Mempawah, Kalimantan Barat, dikembangkan oleh Grup MIND ID dengan mengolah komoditas dari tahap awal hingga produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

Dalam proyek tersebut, bauksit yang sebelumnya memiliki nilai sekitar US$40 per metrik ton diolah menjadi alumina dengan nilai sekitar US$350 per ton. Tahap berikutnya menghasilkan aluminium dengan nilai yang disebut mencapai sekitar US$3.200 per ton.

Perbedaan nilai tersebut menunjukkan potensi peningkatan manfaat ekonomi ketika komoditas tidak langsung dijual sebagai bahan mentah. Aktivitas pengolahan di dalam negeri juga dapat menciptakan kegiatan industri baru, memperkuat rantai pasok manufaktur, serta membuka peluang peningkatan penerimaan negara.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M. Rizal Taufikurahman menilai pengembangan hilirisasi memiliki peran penting dalam memperbesar kontribusi sektor pertambangan terhadap perubahan struktur ekonomi nasional.

“Penguatan hilirisasi menjadi kunci untuk menciptakan nilai tambah di dalam negeri, sekaligus memperbesar kontribusi sektor pertambangan terhadap transformasi ekonomi nasional,” katanya.

Rizal menambahkan, manfaat hilirisasi tidak berhenti pada peningkatan nilai jual komoditas. Kebijakan tersebut juga berpotensi memperluas penerimaan negara, menarik investasi, memperkuat sektor manufaktur, dan menghasilkan efek berganda bagi perekonomian.

Pandangan serupa disampaikan Wakil Ketua Komisi XII DPR RI Sugeng Suparwoto. Ia menyebut hilirisasi sebagai bagian penting dari agenda strategis nasional untuk memperkuat struktur perekonomian Indonesia.

“Hilirisasi menjadi kunci peningkatan nilai tambah komoditas, mulai dari nikel, bauksit, hingga batu bara,” ujarnya.

Dengan pengembangan proyek hilirisasi yang semakin luas, sektor minerba diarahkan untuk tidak berhenti sebagai pemasok komoditas mentah. Pengolahan di dalam negeri diharapkan mampu memperkuat basis industri, meningkatkan nilai tambah, menarik investasi, serta memperbesar kontribusi sektor pertambangan terhadap perekonomian nasional.

WS
Winda SariEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update