Rabu, 28 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Ekonomi
Ekonomi

Inflasi Kalbar September 2026 Capai 0,79 Persen, Harga Pangan Jadi Perhatian

✍️ Winda Sari 🕒 03 Oct 2026 👁️ 10x dibaca
Arsip - Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso
Arsip - Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso Foto: istimewa

kalbarbagus.com – Inflasi di Kalimantan Barat pada September 2026 tercatat sebesar 0,79 persen secara bulanan (month to month/mtm). Perkembangan harga tersebut menjadi perhatian seiring adanya kenaikan sejumlah komoditas pangan.

Kondisi inflasi tersebut menunjukkan adanya tekanan harga di Kalimantan Barat, terutama dari kelompok bahan pangan yang mengalami perubahan harga selama September 2026.

Secara nasional, Bank Indonesia (BI) menilai inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) September 2026 masih berada dalam kisaran sasaran. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi nasional pada September 2026 mencapai 0,30 persen secara bulanan dan 3,28 persen secara tahunan.

BI menyebut pengendalian inflasi dilakukan melalui sinergi pemerintah pusat dan daerah bersama Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID).

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan bank sentral masih meyakini inflasi pada 2026 dan 2027 berada dalam sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen.

Salah satu perhatian utama dalam perkembangan inflasi adalah kelompok pangan bergejolak atau volatile food. Secara nasional, kelompok tersebut mengalami inflasi sebesar 1,46 persen secara bulanan pada September 2026, meningkat dibandingkan Agustus yang sebesar 0,88 persen.

Kenaikan harga terutama berasal dari sejumlah komoditas seperti cabai rawit, cabai merah, daging ayam ras, beras dan telur ayam ras.

Kondisi tersebut dipengaruhi antara lain oleh penurunan produksi di sejumlah daerah sentra akibat gangguan cuaca serta meningkatnya biaya input produksi.

Tekanan harga pangan juga menjadi perhatian dalam pengendalian inflasi di daerah, termasuk Kalimantan Barat. Pemerintah daerah bersama TPID perlu menjaga ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi agar perubahan harga bahan pangan tetap terkendali.

Selain pangan, perkembangan harga energi turut memengaruhi inflasi. Pada September 2026, kelompok administered prices secara nasional mencatat inflasi rendah mendekati nol persen secara bulanan.

BI menyatakan pengendalian inflasi ke depan tetap diperkuat melalui koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah dan berbagai pihak terkait, termasuk dalam mengantisipasi dampak cuaca ekstrem terhadap produksi serta harga bahan pangan.

Bagi Kalimantan Barat, pengendalian harga pangan menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus mendukung kestabilan perekonomian daerah.

WS
Winda SariEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update