Karhutla Kalbar Berangsur Membaik, Warga Diminta Tetap Waspada hingga Awal Oktober
kalbarbagus.com – Kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat mulai menunjukkan perbaikan. Hingga Selasa (29/9/2026), hampir seluruh kabupaten/kota tidak lagi mencatat titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD Kalbar Ridwan mengatakan, berdasarkan pembaruan data BMKG hingga Senin (28/9) pukul 23.59 WIB, Kabupaten Ketapang menjadi satu-satunya wilayah yang masih terdeteksi memiliki titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi.
“Kalau secara keseluruhan dari kabupaten yang berada di Kalbar pada hari ini, tanggal 29 September, sudah mengalami perbaikan yang cukup bagus,” kata Ridwan saat menyampaikan perkembangan penanganan karhutla, Selasa (29/9).
Dalam data tersebut tercatat empat titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di Ketapang. Sementara pemantauan melalui aplikasi Sipongi dengan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA menunjukkan hampir tidak ada lagi titik panas maupun titik api di wilayah kabupaten/kota lainnya.
Meski begitu, beberapa titik dengan tingkat kepercayaan menengah masih terpantau. Ridwan menegaskan titik tersebut belum dapat dipastikan sebagai kejadian kebakaran atau karhutla.
“Namun, titik tersebut belum dapat dipastikan sebagai kejadian kebakaran atau karhutla,” ungkapnya.
Jarak Pandang Mulai Membaik
Perbaikan kondisi juga terlihat dari jarak pandang di sejumlah daerah. Di Kota Pontianak, jarak pandang hingga sekitar pukul 06.00 WIB berada pada kisaran dua hingga lima kilometer. Kondisi serupa juga terjadi di Kubu Raya.
Sementara di Sintang, jarak pandang pada Selasa pagi masih sekitar 700 meter. BPBD berharap kondisi tersebut terus membaik.
Potensi hujan menjadi salah satu faktor yang mendukung pemulihan. Berdasarkan data BMKG, hampir seluruh kabupaten/kota di Kalbar memiliki potensi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang pada Selasa (29/9). Potensi hujan juga diperkirakan masih tersedia pada Rabu (30/9).
“Kalau dilihat pada saat ini, sudah ada titik-titik hujan yang mempunyai intensitas hujan yang sedang. Selain juga ada beberapa kabupaten yang mempunyai potensi hujan ringan,” jelasnya.
94 dari 95 Laporan Sudah Ditangani
Melalui aplikasi Tanggap, BPBD Kalbar mencatat 95 laporan terkait penanganan karhutla hingga Selasa. Sebanyak 94 laporan telah diselesaikan, sedangkan satu laporan di Kabupaten Sintang masih dalam penanganan.
Ridwan menyebut kondisi di Sintang tidak lagi menunjukkan kebakaran besar. Tim di lapangan telah melakukan pendinginan untuk memastikan tidak terjadi penyalaan kembali.
“Berdasarkan seluruh data pemantauan BMKG, Sipongi dan aplikasi Tanggap, operasi penanganan karhutla tetap dilaksanakan melalui tim udara, dan darat,” ujarnya.
Untuk operasi udara, BPBD Kalbar mengerahkan dua helikopter. Satu helikopter digunakan untuk penanganan dan pemantauan di Ketapang serta Kayong Utara. Sementara helikopter lainnya melakukan patroli di Kubu Raya, Mempawah, Bengkayang, Singkawang, Sambas, dan wilayah sekitarnya.
Operasi water bombing dari Lanud Supadio juga diarahkan ke lokasi yang masih terpantau memiliki titik api atau asap. Penanganan dilakukan di Desa Laman Satong dan Desa Air Hitam Hulu, Kabupaten Ketapang, serta wilayah Lubuk Batu, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara.
Di darat, BPBD Kalbar bersama Manggala Agni, Satpol PP, DLHK, TNI, Polri, dan sejumlah perangkat daerah melakukan pendinginan di wilayah Kubu Raya. Pemantauan menggunakan drone turut dilakukan untuk mengidentifikasi lokasi yang masih membutuhkan penanganan.
“BPBD kabupaten/kota juga tetap melakukan penanganan di wilayah masing-masing. Di Ketapang, misalnya, tim daerah melakukan pemadaman dan pendinginan terhadap lokasi yang masih terpantau dari data BMKG,” jelasnya.
Warga Diminta Tidak Lengah
Meski kondisi karhutla mulai membaik, BPBD Kalbar mengingatkan masyarakat dan perusahaan agar tetap waspada. Berdasarkan data BMKG, potensi kemudahan terjadinya karhutla masih perlu diperhatikan pada 3–5 Oktober, terutama pada 4 dan 5 Oktober.
Masyarakat dan perusahaan diminta tidak melakukan pembakaran lahan untuk mencegah munculnya kembali titik api.
“Diharapkan kepada seluruh masyarakat, baik itu secara pribadi ataupun korporasi, dilarang untuk membakar lahan,” tegasnya.
Polda Kalbar juga terus melakukan pemantauan terhadap wilayah yang masih berpotensi mengalami karhutla. Selain pencegahan, masyarakat diminta memperhatikan kondisi kualitas udara sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan.
Kabid Humas Polda Kalbar Kombes Pol Bambang Suharyono mengimbau masyarakat menggunakan masker ketika kondisi udara berasap dan mengurangi aktivitas luar ruangan yang tidak diperlukan.
“Masyarakat yang harus beraktivitas di luar rumah, terutama ketika kondisi udara berasap, kami imbau untuk menggunakan masker, dan mengurangi aktivitas di luar ruangan yang tidak diperlukan. Kami juga mengajak seluruh masyarakat bersama-sama mencegah karhutla dengan tidak melakukan pembakaran lahan,” ujar Bambang.
Kelompok rentan seperti anak-anak dan lanjut usia juga perlu mendapat perhatian lebih ketika kualitas udara menurun. Masyarakat diimbau mengikuti informasi resmi BMKG mengenai cuaca dan kualitas udara.
“Dengan hujan yang mulai turun di sejumlah wilayah, kualitas udara di Kalbar diharapkan terus membaik. Namun, kewaspadaan terhadap karhutla, dan dampak asap tetap diperlukan hingga kondisi benar-benar aman, dan kualitas udara kembali berada pada kategori sehat,” kata Bambang.
DPRD Dorong Penguatan Pencegahan
Anggota Komisi II DPRD Kalbar Marten Luther menilai penanganan karhutla perlu diikuti dengan strategi pencegahan yang lebih kuat.
Ia berharap meredanya karhutla dapat segera memulihkan aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan belajar mengajar di sekolah.
“Kita berharap karhutla ini segera selesai, sehingga aktivitas anak-anak sekolah bisa berjalan dengan baik,” kata Marten.
Menurutnya, pemerintah dan masyarakat perlu memperkuat pengawasan terhadap aktivitas pembakaran lahan setelah kondisi karhutla mereda.
“Ke depannya kita harap kalau ini tidak terjadi lagi, ada antisipasi. Pembakaran-pembakaran itu juga bisa ditangani oleh pemerintah. Pemerintah maupun masyarakat harus saling bekerja sama menjaga hutan,” ujarnya.
Marten juga mendorong pemerintah menyiapkan cadangan anggaran untuk menghadapi bencana sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat ketika kondisi serupa kembali terjadi.
“Kita berharap pemerintah nanti bisa mencadangkan anggaran bencana. Jadi ketika ini terjadi, kita sudah siap untuk melaksanakan penanggulangan bencana,” katanya.
Ia menambahkan, persoalan kekeringan juga berdampak pada ketersediaan air bersih di sejumlah wilayah Kalbar.
“Untuk krisis air bersih memang ini terjadi di mana-mana. Ini karena faktor kemarau yang cukup panjang,” ujarnya.
