Karhutla Kalbar Kembali Meningkat, 47 Titik Panas Terdeteksi
kalbarbagus.com – Perkembangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat kembali menjadi perhatian setelah jumlah titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi mengalami peningkatan.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) hingga Rabu (30/9) pukul 23.59 WIB, tercatat 47 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di sejumlah wilayah Kalbar.
Kabupaten Ketapang menjadi daerah dengan sebaran titik panas terbanyak, yakni 37 titik. Selanjutnya terdapat Sanggau dan Sintang masing-masing tiga titik, Melawi dua titik, serta Landak dan Sekadau masing-masing satu titik.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalbar, Ridwan, menyebut jumlah titik panas kembali mengalami kenaikan.
“Untuk data pada hari ini (Kamis), terlihat ada kenaikan sedikit lagi untuk sebaran titik panas tingkat kepercayaan tinggi,” kata Ridwan saat menyampaikan perkembangan penanganan karhutla Kalbar, Kamis (1/10).
Selain data BMKG, pemantauan melalui aplikasi Sipongi dengan menggunakan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA juga menunjukkan adanya titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi maupun menengah di sejumlah wilayah.
Dari pemantauan tersebut, satelit Terra/Aqua mendeteksi 16 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi. Sementara SNPP mendeteksi 19 titik dan NOAA satu titik.
Ridwan mengatakan, beberapa wilayah yang sebelumnya relatif aman mulai terdeteksi memiliki titik panas. Daerah tersebut antara lain Sanggau, Sekadau, Landak, dan Sintang.
Di tengah peningkatan titik panas, kondisi jarak pandang di sejumlah wilayah Kalbar mulai menunjukkan perbaikan. Di Kubu Raya, jarak pandang pada periode 30 September pukul 18.00 WIB hingga 1 Oktober pukul 06.00 WIB berada pada kisaran dua hingga lima kilometer.
Kondisi serupa juga terjadi di Pontianak dengan jarak pandang antara satu hingga lima kilometer. Sementara Singkawang dan Sambas dilaporkan memiliki jarak pandang lebih dari lima kilometer.
Namun, kondisi berbeda masih terlihat di Ketapang dan Sintang.
"Untuk Kabupaten Ketapang terlihat tadi di pukul 06.00 hanya berjarak pandang satu setengah kilometer, dan untuk Kabupaten Sintang ini berjarak pandang hanya sejauh satu kilometer,” jelasnya.
Untuk kondisi cuaca, potensi hujan ringan hingga menengah pada 1 Oktober diprakirakan terjadi di Sambas dan wilayah perhuluan. Sementara Ketapang dan Kayong Utara menghadapi potensi curah hujan yang lebih rendah hingga 7 Oktober.
"Kami agak khawatirkan tadi untuk Kabupaten Ketapang, karena kalau dilihat dari potensi hujan yang ada di kabupaten ini, mulai tanggal 1 sampai tanggal 7 Oktober nanti sudah mulai terlihat tidak ada lagi potensi hujan,” ujarnya.
Meski demikian, Ridwan menyebut kondisi tersebut masih dapat berubah. Potensi pertumbuhan awan hujan di Ketapang masih berada di atas 70 persen sehingga terdapat peluang untuk melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
"Semoga dari data ini kita bisa melakukan OMC untuk wilayah Ketapang, dan untuk waktu-waktu ke depan juga kalau potensi pertumbuhan awan di kabupaten tersebut cukup bagus, operasi OMC dapat kami lakukan,” katanya.
BPBD Kalbar bersama Manggala Agni, TNI-Polri, Satpol PP, DLHK dan unsur terkait lainnya juga memperkuat penanganan melalui Satgas Udara dan Satgas Darat.
Pada Kamis (1/10), dua patroli udara dikerahkan. Salah satunya menyisir Ketapang bagian selatan, sedangkan patroli lainnya memantau Ketapang bagian utara hingga Kayong Utara.
Penanganan juga dilakukan melalui water bombing. Dari Base Lanud Supadio, operasi diarahkan ke Desa Natai Kuini, Kecamatan Kendawangan dan Desa Kuala Tolak, Kecamatan Matan Hilir Utara, Ketapang. Satu armada lainnya diarahkan ke Lubuk Batu, Kecamatan Simpang Hilir, Kayong Utara.
"Ini juga berdasarkan dari hasil patroli udara kita yang kemarin,” kata Ridwan.
Selain itu, dukungan water bombing disiapkan dari Base Sintang dengan sasaran Desa Merakai Dua, Kecamatan Sungai Tebelian.
BPBD Kalbar juga mengingatkan masyarakat dan korporasi agar tidak melakukan pembakaran lahan. Peringatan tersebut disampaikan karena periode 2 hingga 7 Oktober masih berpotensi mengalami kondisi yang mendukung terjadinya karhutla.
"Karena apabila melakukan pembakaran maka titik-titik api ataupun titik panas yang ada di aplikasi ataupun di wilayah kita akan mengalami peningkatan lagi,” katanya.
Ridwan juga mengingatkan agar penanganan yang telah dilakukan tidak kembali menghadapi persoalan serupa akibat aktivitas pembakaran.
"Sehingga kejadian-kejadian kemarin yang sudah kita bisa tanggulangi, dikhawatirkan itu akan terulang kembali,” pungkasnya.
