Karhutla Kalteng dan Sumsel Ditangani, Hotspot Nasional Turun 77,5 Persen
kalbarbagus.com – Pemerintah memaksimalkan operasi pemadaman darat dan udara untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan. Upaya tersebut dilakukan di tengah penurunan jumlah titik panas atau hotspot secara nasional yang mencapai 77,5 persen dalam 24 jam hingga 13 Oktober 2026.
Juru Bicara sekaligus Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Berton S.P. Panjaitan, mengatakan pemadaman melalui operasi darat tetap menjadi prioritas karena dinilai lebih efektif menjangkau titik kebakaran.
“Sedangkan operasi pemadaman tentu mengutamakan operasi darat karena pemadaman ini yang lebih efektif. Operasi darat bisa memadamkan seketika, (walaupun) tidak sampai ke dalam gambut,” ungkap Berton dalam konferensi pers, Rabu (14/10/2026).
Selain mengerahkan petugas di darat, pemerintah mengoptimalkan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk membantu meningkatkan peluang terjadinya hujan di wilayah terdampak. Pelaksanaannya menyesuaikan kondisi serta pertumbuhan awan yang berpotensi menghasilkan hujan.
Berton menjelaskan, operasi modifikasi cuaca dapat dioptimalkan ketika awan berada di wilayah yang mendukung penyemaian.
“Kemudian operasi OMC. OMC sangat bergantung pada pertumbuhan awan. Jadi ketika pertumbuhan awan ada di Kalimantan Barat kita optimalkan sehingga hujan yang kontinu, yang konsisten itu tetap terjadi. Jadi ini yang kita jaga momentumnya,” jelasnya.
Untuk penanganan karhutla di Kalimantan Tengah, operasi modifikasi cuaca dilakukan dari beberapa lokasi dan disesuaikan dengan kondisi awan. Sementara itu, operasi untuk wilayah Sumatera Selatan direncanakan menggunakan pangkalan di Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung.
“Jadi, ada helikopter direncanakan dari sana karena visibility lebih memungkinkan di sana,” terangnya.
Ribuan Personel Dikerahkan
Dukungan personel juga diperkuat untuk mempercepat penanganan kebakaran. Kementerian Kehutanan mengerahkan 1.419 personel Manggala Agni di empat provinsi.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan, Ristianto Pribadi, mengatakan pihaknya turut menyiapkan 5.000 aparatur sipil negara (ASN). Dari jumlah tersebut, sekitar 2.000 personel berstatus bantuan kendali operasi (BKO) saat ini aktif di lapangan.
Pengerahan tersebut dilakukan untuk mendukung operasi pemadaman dan memperkuat penanganan di wilayah yang masih menghadapi ancaman kebakaran.
Hotspot Kalteng dan Sumsel Ikut Menurun
Berdasarkan data Kementerian Kehutanan, jumlah hotspot nasional pada periode 1–13 Oktober 2026 tercatat lebih rendah dibandingkan periode 17–30 September 2026.
Pada periode 17–30 September, terdapat 9.080 hotspot dengan rata-rata 649 titik per hari. Puncak harian mencapai 1.843 titik pada 20 September 2026.
Sementara itu, pada periode 1–13 Oktober tercatat 7.519 hotspot, dengan puncak harian sebanyak 1.029 titik pada 8 Oktober.
Penurunan juga terlihat pada pemantauan harian 13 Oktober. Jumlah hotspot nasional turun dari 1.085 titik pada 12 Oktober menjadi 244 titik atau berkurang 77,5 persen.
Kalimantan Tengah mencatat penurunan dari 227 menjadi 65 titik. Adapun di Sumatera Selatan, jumlah hotspot turun dari 147 menjadi 59 titik.
“Secara nasional, 24 jam terakhir turun 77,5 persen. Khusus untuk di Kalimantan Tengah, terdapat penurunan dari 227 titik hotspot menjadi 65 titik hotspot. Serta di Sumatera Selatan dari 147 titik hotspot menjadi 59 titik hotspot,” kata Ristianto.
Meski jumlah hotspot menurun, pemerintah tetap melanjutkan operasi pemadaman darat, dukungan udara, dan modifikasi cuaca untuk mengendalikan kebakaran serta mengantisipasi munculnya titik api baru.
