Rabu, 28 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Daerah
Daerah

Krisis Karhutla Kalteng: Ribuan Masyarakat dan Santri Gelar Salat Istisqa dan Doa Bersama

✍️ Rian Haryanto 🕒 23 Oct 2026 👁️ 3x dibaca
Istigasah Hari Santri
Istigasah Hari Santri Foto: istimewa

PALANGKA RAYA — Sebanyak 3.000 warga masyarakat bersama jajaran pemerintah daerah dan para santri di Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) berkumpul menggelar doa bersama dan Istigasah dalam rangka memperingati Hari Santri. Kegiatan spiritual bernuansa kekhusyukan tinggi ini diselenggarakan secara terpusat untuk memohon petunjuk, keselamatan, serta curahan hujan demi memadamkan maraknya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang belakangan ini melanda wilayah bumi Tambun Bungai tersebut.

Aksi doa bersama ini menjadi momentum krusial ketika dampak Karhutla di berbagai titik wilayah Kalteng telah memicu polusi udara dan kabut asap pekat. Kehadiran ribuan jemaah dari pelbagai kalangan, mulai dari ulama, tokoh masyarakat, santri pondok pesantren, hingga pejabat pemerintah, menegaskan keprihatinan kolektif terhadap bencana lingkungan yang tengah dihadapi masyarakat Kalimantan Tengah.

Pelaksanaan Istigasah dan Salat Istisqa (doa memohon hujan) ini merupakan bentuk ikhtiar spiritual yang melengkapi berbagai upaya teknis pemadaman di lapangan yang telah dilakukan oleh Tim Satgas Karhutla, baik darat maupun udara. Musim kemarau yang panjang disertai kemunculan titik-titik api (hotspot) di lahan gambut membuat proses pemadaman secara manual menghadapi kendala amat berat. Oleh karena itu, masyarakat memanjatkan harapan agar hujan deras dapat segera turun secara merata untuk memadamkan kobaran api yang sulit dijangkau.

Rangkaian acara diawali dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an, zikir, istigasah, serta dilanjutkan dengan pelaksanaan Salat Istisqa berjemaah. Tunduk dalam suasana khidmat, ribuan jemaah memanjatkan doa dengan penuh kerendahan hati agar Tuhan Yang Maha Esa menurunkan rahmat berupa hujan yang membawa keberkahan dan mengakhiri ancaman bahaya asap.

Peringatan Hari Santri tahun ini pun terasa berbeda dan menyentuh sisi kemanusiaan yang mendalam. Jiwa kepedulian para santri dan elemen masyarakat diuji untuk saling bahu-membahu, tidak hanya dalam urusan keagamaan dan kebangsaan, tetapi juga dalam merespons bencana sosial dan lingkungan yang berdampak langsung pada kesehatan serta aktivitas ekonomi warga harian.

Dalam kesempatan tersebut, perwakilan penyelenggara dan tokoh yang hadir menyampaikan pesan mendalam terkait pentingnya berserah diri sekaligus menjaga kelestarian alam secara bijak.

"Melalui momentum Peringatan Hari Santri ini, kita bersama-sama mengetuk pintu langit melalui istigasah dan doa bersama. Kita memohon kepada Allah SWT agar segera menurunkan hujan yang lebat dan merata, sehingga kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di wilayah Kalteng ini dapat segera teratasi dan padam total," ujar salah satu tokoh dalam sambutannya.

Selain memohon bantuan Ilahi, imbauan tegas juga disampaikan kepada seluruh lapisan masyarakat agar tidak melakukan tindakan konyol yang memicu munculnya titik api baru, mengingat kondisi vegetasi dan lahan gambut yang sangat mudah terbakar saat musim kering.

"Kami mengimbau kepada seluruh lapisan masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar. Mari kita saling menjaga lingkungan kita masing-masing agar bencana kabut asap ini tidak semakin memburuk dan membahayakan kesehatan anak-anak serta generasi kita," tambahnya.

Bencana Karhutla di Kalimantan Tengah bukanlah isu baru, namun dampaknya pada periode ini meresahkan warga di beberapa kabupaten dan kota, termasuk Palangka Raya, Pulang Pisau, dan Kapuas. Lahan gambut yang mendominasi kawasan tersebut memiliki karakteristik unik: api tidak hanya membakar permukaan atas, melainkan merembet jauh ke dalam tanah hingga kedalaman beberapa meter. Hal ini menyebabkan asap tebal terus berhembus meskipun bagian permukaan tampak telah padam.

Kondisi kualitas udara di beberapa wilayah sempat menyentuh level tidak sehat hingga berbahaya. Asap pekat yang disebabkannya telah mengganggu jadwal penerbangan, mengancam kesehatan masyarakat dengan lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), serta memaksa sebagian sekolah untuk menyesuaikan jam belajar siswa demi mengantisipasi paparan polusi udara.

Petugas gabungan dari TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, hingga relawan pemadam kebakaran swakarsa telah bekerja ekstra keras siang dan malam. Namun, keterbatasan sumber air di sekitar lokasi kebakaran serta akses medan yang sulit kerap menjadi kendala utama dalam penanganan cepat di lapangan. Kehadiran hujan alami dengan intensitas tinggi dipandang sebagai satu-satunya solusi paling efektif untuk menuntaskan pemadaman di area gambut yang dalam.

Peringatan Hari Santri yang jatuh setiap bulan Oktober menjadi panggung penegasan peran santri dalam menjaga keutuhan bangsa serta kepedulian terhadap isu-isu keumatan dan lingkungan hidup. Mengusung nilai-nilai keagamaan yang teduh, para santri di Kalteng menunjukkan bahwa peran mereka tidak terbatas di dalam lingkungan pesantren saja, melainkan hadir secara nyata di tengah krisis masyarakat.

Acara istigasah dan doa bersama ini diakhiri dengan mushafahah (bersalaman) dan komitmen bersama antara pemerintah daerah, aparat keamanan, tokoh agama, dan warga untuk terus memperkuat sinergi. Diharapkan melalui perpaduan antara ikhtiar lahiriah—seperti patroli ketat, pemadaman darat, dan operasi pembenihan awan (teknologi modifikasi cuaca)—dengan ikhtiar batiniah berupa Istigasah ini, Provinsi Kalimantan Tengah dapat segera terbebas dari ancaman Karhutla dan hiruk-pikuk bencana kabut asap.

RH
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update