Rabu, 28 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Daerah
Daerah

Petambak Bulungan Pelopori Panen Udang Bebas Kimia Melalui Inovasi Sistem AMA

✍️ Rian Haryanto 🕒 14 Oct 2026 👁️ 3x dibaca
Petambak Bulungan Pelopori Panen Udang Bebas Kimia Melalui Inovasi Sistem AMA
Petambak Bulungan Pelopori Panen Udang Bebas Kimia Melalui Inovasi Sistem AMA Foto: detik.com

BULUNGAN — Praktik budidaya perikanan pesisir di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, kini memasuki babak baru yang lebih ramah lingkungan. Sejumlah petambak di Desa Liagu, Kecamatan Sekatak, sukses membuktikan keberhasilan panen udang bebas bahan kimia melalui penerapan metode Associated Mangrove Aquaculture (AMA). Langkah terobosan ini menjadi jawaban atas tantangan degradasinya ekosistem pesisir sekaligus sebagai upaya mendongkrak daya saing dan kualitas hasil panen udang secara nasional.

Sistem budidaya AMA mengintegrasikan pemeliharaan udang dengan fungsi pemulihan vegetasi mangrove di kawasan tambak. Melalui pendekatan ekologis tersebut, petambak tidak lagi mengandalkan bahan-bahan kimia sintetis maupun pestisida berbahaya yang dapat mencemari perairan dan merusak ekosistem. Hasilnya, ekosistem air tambak menjadi lebih sehat, pertumbuhan udang berlangsung alami, dan produk udang yang dihasilkan memiliki tingkat keamanan pangan tinggi.

Salah satu aspek krusial dalam penerapan inovasi ini terletak pada pengalihan sistem pakan dan pengelolaan tambak. Petambak beralih memanfaatkan bahan-bahan alami untuk memicu pertumbuhan pakan alami udang di dalam petakan tambak. Dalam penerapannya, proses fermentasi dedak dimanfaatkan secara optimal untuk mendorong perkembangan plankton dan organisme mikro yang menjadi konsumsi udang. Pola ini memangkas ketergantungan petambak pada obat-obatan kimia maupun pakan buatan yang kerap meninggalkan residu pada air dan substrat tanah.

Praktik budidaya ini terbukti memberikan dampak signifikan terhadap perbaikan kualitas perairan dan produktivitas udang. Salah satu petambak, Suarno, membagikan pengalamannya mengenai perubahan positif yang dirasakan sejak meninggalkan metode lama. Menurut pengalamannya, pendekatan ini memberikan kondisi yang lebih baik dibandingkan pola pengelolaan tambak konvensional.

Meskipun menawarkan dampak positif jangka panjang bagi lingkungan dan kualitas udang, pergeseran dari metode konvensional menuju metode AMA bukannya tanpa kendala. Proses adaptasi kebiasaan bagi para petambak menjadi tantangan tersendiri yang memerlukan pendampingan berkelanjutan. Keterbiasaan menggunakan cara-cara lama yang instan memerlukan waktu dan kesabaran untuk diubah secara bertahap.

Terkait dengan tantangan adaptasi tersebut, Suarno menegaskan bahwa pergeseran kebiasaan tidak dapat dipaksakan seketika.

"Petambak tradisional tidak bisa serta-merta mengubah kebiasaan lama di tengah kondisi lingkungan yang sudah terpengaruh polusi dan limbah," tutur Suarno.

Di sisi lain, dari segi efisiensi pembiayaan, program inovasi AMA ini memberikan angin segar bagi perekonomian para petambak lokal. Skema pendampingan program turut menanggung berbagai beban operasional dan persiapan awal yang selama ini menjadi kendala finansial petambak. Dukungan fisik seperti pengerjaan perbaikan tanggul, pembuatan Parit tambak, hingga penyediaan benur atau bibit udang unggulan diberikan untuk merangsang partisipasi masyarakat. Hal ini membuat skema AMA tidak hanya ramah bagi ekosistem, tetapi juga sangat ekonomis dan meringankan beban modal kerja masyarakat pesisir.

Keberhasilan panen udang bebas kimia di Desa Liagu ini mendapat perhatian positif dari pemerintah daerah. Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kalimantan Utara menilai praktik baik di Bulungan ini patut disebarluaskan ke wilayah pesisir lainnya. Kepala DKP Kaltara, Hasan, menyampaikan apresiasinya terhadap capaian kelompok petambak tersebut.

"DKP Kaltara berharap keberhasilan di Desa Liagu dapat menjadi pilot project yang direplikasi oleh kelompok petambak lain demi menjaga kualitas dan daya saing harga udang di pasar nasional," jelas Hasan.

Pengembangan inovasi AMA di kawasan pesisir Kalimantan Utara juga menekankan pentingnya keterlibatan aktif masyarakat lokal yang hidup di sekitar hutan bakau. Keberlanjutan ekosistem tidak dapat dipisahkan dari peran warga sebagai penjaga lingkungan. Program yang diusung oleh para pemangku kepentingan dan konsorsium pendamping ini diharapkan mampu menjadi rujukan nasional bagi model perikanan tangkap dan budidaya yang selaras dengan daya dukung alam.

Pentingnya pelibatan masyarakat pesisir ini turut digarisbawahi oleh Syam, mewakili pihak pendamping program. Ia menegaskan bahwa model pendekatan berbasis konservasi mangrove ini harus dapat diperluas jangkauannya.

"Program ini bisa menjadi model pendekatan yang tidak hanya dilaksanakan oleh teman-teman NASCLIM, tetapi juga dapat diimplementasikan di tempat lain. Namun, yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat di sekitar kawasan pesisir, khususnya kawasan mangrove, dapat dilibatkan secara aktif," pungkas Syam.

Melalui keberhasilan terobosan metode Associated Mangrove Aquaculture (AMA) ini, Kabupaten Bulungan tidak hanya membuktikan diri sebagai salah satu lumbung udang nasional, tetapi juga menjadi pelopor dalam penerapannya yang berkelanjutan. Sinergi antara pemulihan lingkungan mangrove, penurunan penggunaan bahan kimia pencemar, efisiensi modal produksi, serta komitmen para petambak lokal menjadi fondasi utama mewujudkan udang Indonesia yang berkualitas tinggi dan berdaya saing di pasar global.

Informasi Tambahan Tambak AMA:

  • Lokasi Pilot Project: Desa Liagu, Kecamatan Sekatak, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara.

  • Metode Utama: Associated Mangrove Aquaculture (AMA) dengan pemanfaatan fermentasi dedak sebagai pakan alami udang.

  • Keunggulan: Bebas kimia, perbaikan kualitas air, pemulihan kawasan mangrove, dan efisiensi biaya operasional petambak.

RH
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update