Rabu, 28 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Daerah
Daerah

Tragedi Pemadaman Karhutla Alalak: Relawan Meninggal Dunia Setelah Mengalami Sesak Napas dan Nyeri Dada

✍️ Rian Haryanto 🕒 22 Oct 2026 👁️ 4x dibaca
Rumah duka Nurdin di Banjarmasin
Rumah duka Nurdin di Banjarmasin Foto: detik.com

BARITO KUALA — Duka mendalam menyelimuti barisan pemadam kebakaran swadaya di Kalimantan Selatan. Seorang relawan bernama Nurdin (atau akrab disapa Amang Udin) meninggal dunia setelah berjuang memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala (Batola), Kalimantan Selatan. Almarhum mengembuskan napas terakhir dalam perjalanan menuju fasilitas kesehatan usai mengeluhkan sakit dada berat dan sesak napas di tengah gumpalan asap pekat.

Insiden memilukan tersebut terjadi ketika tim gabungan pemadam kebakaran swakarsa berjihad menjinakkan kobaran api karhutla yang mengepung kawasan pemukiman dan lahan kering di sekitar wilayah Handil Bakti, Kecamatan Alalak. Nurdin yang bertugas di garda terdepan barisan pemadaman tiba-tiba tak berdaya setelah menghirup kepulan asap tebal. Meski sempat dilarikan ke Klinik Utama Setara Handil Bakti, nyawanya tidak dapat diselamatkan.

Pemeriksaan awal oleh tim medis menunjukkan bahwa korban tiba di klinik dalam kondisi tidak merespons pertolongan emergency. Kepergian almarhum meninggalkan duka mendalam bagi sanak keluarga di rumah duka Kompleks Kayu Bulan, Sungai Andai, Banjarmasin Utara, serta ratusan rekan sejawat sesama anggota Pemadam Kebakaran (PK) dan Barisan Pemadam Kebakaran (BPK) se-Kalimantan Selatan.

Kronologi Pertarungan di Barisan Depan Pemadaman

Berdasarkan keterangan yang dihimpun dari para saksi dan rekan satu timnya di lapangan, kejadian bermula saat armada pemadam kebakaran tiba di lokasi kejadian pada siang hari. Sejumlah unit BPK berkumpul di area belakang Kantor Kecamatan Alalak untuk memblokir laju kobaran api yang kian mendekati permukiman.

Iskandar, salah seorang rekan korban yang berada di lokasi penanganan karhutla, menceritakan bahwa korban berinisiatif mengambil posisi paling depan untuk mengarahkan semprotan air. Namun, medan yang dipenuhi semak belukar kering membuat embusan angin membawa kepulan asap hitam yang sangat pekat.

sesaat setelah berjibaku selama sekitar satu jam melawan titik api, kondisi fisik Nurdin mulai menurun drastis. Almarhum mendadak memegangi bagian dadanya sambil meringis kesakitan.

Iskandar mengungkapkan kepanikan saat almarhum memberitahukan kondisi kesehatannya yang mendadak memburuk:

"Pas lagi memadamkan di depan, beliau bilang dadanya sakit. Kami bawa mundur. Memang sempat tebal asap tadi di sini,"

"Sekitar pukul 13.00 Wita kami sampai di lokasi. Korban turun untuk memadamkan api bersama beberapa orang lainnya. Kurang lebih satu jam bekerja, korban mengeluh sesak napas dan sakit dada,"

Mengetahui rekannya berada dalam bahaya, para relawan bergegas memapah Nurdin keluar dari zona merah yang terkepung kabut asap. Korban diistirahatkan di tempat yang lebih aman dan diberikan minum serta bantuan penanganan awal.

Upaya Penyelamatan di Tengah Keterbatasan Alat

Rekan-rekan sejawat berupaya maksimal untuk menstabilkan kondisi pernapasan Nurdin yang kian memburu. Tabung oksigen portabel tipe Oxycan sempat disemprotkan untuk membantunya bernapas, namun pasokan oksigen darurat tersebut tidak mampu meredakan sesak hebat yang dirasakan almarhum.

Melihat kondisi yang semakin mengkhawatirkan dan ambulans penjemput yang belum kunjung tiba di titik lokasi, tim relawan mengambil keputusan cepat untuk membawa Nurdin menggunakan unit kendaraan BPK menuju ke klinik terdekat.

Selama masa evakuasi menuju pertolongan medis, Nurdin dikabarkan sempat hilang kesadaran berulang kali. Kejadian dramatis tersebut disaksikan langsung oleh Amat, rekan korban yang mendampinginya di dalam kabin kendaraan pemadam.

Amat menceritakan detik-detik kritis saat ia berusaha menjaga kesadaran rekannya di sepanjang jalan:

"Dia sempat mencengkram badan saya, dia bilang kalau dadanya sakit. Kemudian saya masih berusaha menyadarkannya. Nggak lama setelah itu sampai ke rumah sakit dan dinyatakan tidak selamat,"

Selain itu, Iskandar juga menambahkan bahwa dalam perjalanan ke fasilitas kesehatan, korban sempat mengalami spasme otot fisik yang hebat:

"Dalam perjalanan ke klinik, korban kejang-kejang dan tangannya sudah mengepal. Tidak lama kemudian, korban meninggal dunia. Jadi, meninggalnya dalam perjalanan ke klinik,"

Penanganan Medis di Klinik Utama Setara Handil Bakti

Kendaraan yang membawa korban akhirnya tiba di Klinik Utama Setara Handil Bakti. Tim medis di instalasi gawat darurat (IGD) langsung memberikan tindakan pertolongan pertama resusitasi jantung paru (RJP) untuk mengembalikan denyut jantung dan fungsi pernapasan korban.

Namun, hasil pemeriksaan fisik fisik pertama mengindikasikan bahwa Nurdin telah mengembuskan napas terakhir sebelum tiba di klinik. Kepala Klinik Utama Setara Handil Bakti, dr. Amalia Dewi, mengonfirmasi bahwa secara klinis kondisi pasien sudah menunjukkan tanda-tanda kematian saat diterima di ruang penanganan.

dr. Amalia Dewi menjelaskan penanganan medis yang tetap dijalankan sesuai dengan standar prosedur operasional:

"Pupil pasien sudah mengalami midriasis atau pelebaran. Meski demikian, tim medis tetap melakukan penanganan sesuai prosedur,"

Upaya RJP yang dilakukan sebanyak dua kali serta pemeriksaan refleks lanjutan tidak membuahkan hasil lantaran tidak ada respons fisiologis dari tubuh almarhum. Dugaan awal menyebutkan kombinasi paparan asap tebal, kekurangan oksigen akut, serta kelelahan fisik memicu gangguan fatal pada sistem kardiovaskular dan pernapasan korban saat berada di medan kebakaran.

Suasana duka langsung pecah di area Klinik Utama Setara Handil Bakti ketika pihak medis mengumumkan berita duka tersebut. Sejumlah relawan pemadam yang masih mengenakan seragam basah dan berjelaga tak mampu membendung air mata mendengar rekan perjuangan mereka telah wafat.

Sorotan Keselamatan dan Alat Pelindung Diri Relawan Damkar

Tragedi gugurnya Nurdin saat memadamkan karhutla di Barito Kuala kembali membuka wacana kritis terkait prosedur keselamatan dan perlindungan bagi para relawan pemadam kebakaran swakarsa di Kalimantan Selatan.

Selama musim kemarau, ancaman karhutla selalu mengepung berbagai wilayah di Kalsel. Ratusan relawan dari puluhan armada BPK swadaya menjadi garda terdepan yang paling awal tiba di titik api, sering kali tanpa dibekali Alat Pelindung Diri (APD) pernapasan yang memenuhi standar medis pertahanan gas beracun.

Banyak relawan di lapangan yang bekerja memadamkan kebakaran lahan hanya dengan berbekal masker kain biasa atau kain basah seadanya. Padahal, asap hasil pembakaran lahan gambut dan semak belukar mengandung partikel berbahaya (Particulate Matter PM2.5), karbon monoksida (CO), serta gas iritan lainnya yang sangat mematikan jika terhirup dalam konsentrasi tinggi dan durasi lama.

Penggunaan peralatan pelindung pernapasan seperti Self-Contained Breathing Apparatus (SCBA) atau setidaknya respirator khusus filtrasi asap tebal menjadi kebutuhan mendesak bagi relawan yang harus berada di jarak sangat dekat dengan pusat kobaran api.

Peristiwa ini menjadi tamparan keras bagi pemangku kebijakan untuk tidak hanya mengandalkan semangat swadaya dan keberanian para relawan dalam menanggulangi bencana karhutla, melainkan juga harus memprioritaskan jaminan keselamatan kerja, penyediaan APD layak, serta fasilitas asuransi kesehatan bagi seluruh insan BPK swakarsa.

Jenazah almarhum Nurdin selanjutnya dievakuasi dari klinik untuk disemayamkan di rumah duka di kawasan Kayu Bulan, Sungai Andai, sebelum dimakamkan oleh pihak keluarga. Kepergiannya dikenang oleh rekan-rekan perjuangan sebagai bentuk pengorbanan tertinggi seorang pahlawan kemanusiaan yang gugur demi melindungi masyarakat dari ancaman bencana kebakaran.

RH
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update