Rabu, 28 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Nasional
Nasional

Trans-Kalimantan Railway Disiapkan, Target Jalur Kereta Api Capai 2.772 Kilometer

✍️ Winda Sari 🕒 09 Oct 2026 👁️ 5x dibaca
BAHAS KERETA API: Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyampaikan keterangan terkait rencana pengembangan kereta api logistik di Kalimantan Timur di Balikpapan, Kamis (8/10).
BAHAS KERETA API: Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyampaikan keterangan terkait rencana pengembangan kereta api logistik di Kalimantan Timur di Balikpapan, Kamis (8/10). Foto: istimewa

kalbarbagus.com – Pemerintah pusat kembali mematangkan rencana pembangunan jaringan kereta api Trans-Kalimantan dengan target jalur mencapai sekitar 2.772 kilometer. Namun, proyek tersebut masih membutuhkan kajian teknis, perencanaan trase, dan perhitungan investasi sebelum memasuki tahap pembangunan.

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengatakan, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) bersama PT Kereta Api Indonesia (KAI) masih menyempurnakan perencanaan proyek tersebut.

“Kementerian Perhubungan dan KAI terus merencanakan ini, mematangkan segala perhitungan karena pengembangan kereta ini membutuhkan perhitungan yang benar-benar detail,” kata AHY di Balikpapan, Kamis (8/10/2026).

Menurut AHY, pengembangan jaringan perkeretaapian harus mempertimbangkan kesesuaian tata ruang, kemampuan fiskal pemerintah pusat dan daerah, serta kepastian investasi jangka panjang.

Target jaringan sekitar 2.772 kilometer yang pernah disampaikan pemerintah masih berupa rencana pengembangan. Angka tersebut belum berarti seluruh jalur telah memiliki trase final atau siap dibangun.

Prabowo Dorong Pengembangan Kereta Api di Kalimantan

Presiden Prabowo Subianto sebelumnya meminta pemerintah menyiapkan jaringan Trans-Sumatra Railway dan Trans-Kalimantan Railway sebagai bagian dari pengembangan transportasi nasional.

Dorongan tersebut disampaikan saat meresmikan Stasiun Tanah Abang Baru pada 4 November 2025. Selain Kalimantan dan Sumatra, Prabowo juga mendorong pengembangan jaringan perkeretaapian di Sulawesi.

Prabowo menekankan bahwa kereta api tidak hanya berfungsi sebagai sarana transportasi penumpang, tetapi juga dapat mendukung distribusi komoditas dari kawasan produksi menuju pelabuhan.

Sejumlah komoditas yang menjadi perhatian meliputi kelapa sawit, karet, kopi, timah, dan hasil pertambangan. Pemanfaatan kereta api untuk angkutan barang diharapkan dapat membantu menekan biaya logistik, konsumsi bahan bakar, serta beban jalan raya.

Pada 30 Juli 2026, saat meresmikan revitalisasi Stasiun Semarang Tawang, Prabowo kembali menyinggung pengembangan jaringan Trans-Sumatra dan Trans-Kalimantan.

Trase dan Prioritas Pembangunan Masih Dikaji

AHY sebelumnya menyampaikan target pengembangan jalur kereta api di Kalimantan mencapai sekitar 2.772 kilometer. Rencana tersebut diarahkan untuk memperkuat konektivitas antarkawasan di pulau tersebut.

Meski demikian, pemerintah masih perlu menyempurnakan Rencana Induk Perkeretaapian Nasional (Ripnas) dan melakukan kajian untuk menentukan koridor yang menjadi prioritas.

Penentuan jalur juga harus memperhatikan tata ruang, kebutuhan angkutan, kelayakan ekonomi, kemampuan pendanaan, serta potensi investasi.

Karena itu, belum semua rute dalam target tersebut memiliki trase final maupun jadwal pembangunan yang pasti.

Integrasi dengan Kawasan Industri dan Pelabuhan

Pengembangan kereta api di luar Jawa turut dibahas lintas kementerian, termasuk terkait integrasi jalur dengan infrastruktur lainnya.

Konektivitas dengan jalan raya, kawasan produksi, kawasan industri, terminal barang, dan pelabuhan menjadi faktor penting agar jaringan kereta api dapat berfungsi sebagai bagian dari sistem logistik nasional.

Integrasi tersebut diperlukan untuk memperlancar pergerakan barang dari daerah penghasil menuju pusat distribusi dan pasar. Dengan dukungan infrastruktur yang terhubung, kereta api berpotensi menjadi alternatif angkutan komoditas jarak jauh.

Namun, pembangunan jalur rel juga harus disertai kesiapan stasiun, depo, sistem persinyalan, fasilitas perawatan, sumber daya manusia, serta standar keselamatan operasional.

Proyek Kereta Api di Kalimantan Timur Pernah Dirancang

Rencana pembangunan kereta api di Kalimantan bukan hal baru. Kalimantan Timur sebelumnya pernah merancang proyek kereta api logistik yang melibatkan PT Kereta Api Borneo.

Pada 19 November 2015, Presiden Joko Widodo melakukan peletakan batu pertama proyek tersebut di Buluminung, Penajam Paser Utara.

Rencana awal proyek mencakup dua koridor. Koridor selatan dirancang sepanjang sekitar 203 kilometer dari kawasan Kutai Barat menuju Penajam Paser Utara. Sementara itu, koridor utara direncanakan sepanjang sekitar 217 kilometer dari Tabang, Kutai Kartanegara, menuju Lubuk Tutung, Kutai Timur.

Proyek tersebut dirancang untuk mendukung angkutan komoditas dan menghubungkan kawasan produksi dengan pusat distribusi. Namun, rencana itu tidak berkembang menjadi jaringan kereta api yang beroperasi.

Pada Maret 2022, PT Kereta Api Borneo mengundurkan diri dari rencana investasi pengangkutan komoditas tersebut.

Pengalaman itu menjadi salah satu konteks dalam penyiapan kembali jaringan kereta api di Kalimantan, terutama menyangkut kepastian investasi, kelayakan proyek, dan keberlanjutan pendanaan.

KAI Siapkan Dukungan untuk Pengembangan Jaringan

PT KAI juga menyatakan kesiapan mendukung pengembangan jaringan perkeretaapian di Kalimantan sesuai kebijakan dan penugasan pemerintah.

Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin pada Agustus 2026 menyatakan perusahaan mempersiapkan diri untuk mendukung agenda penguatan konektivitas perkeretaapian nasional, termasuk pengembangan jaringan di Kalimantan.

Meski demikian, realisasi Trans-Kalimantan Railway masih bergantung pada hasil kajian teknis, penentuan koridor prioritas, dan kepastian skema investasi.

Dengan target jaringan sekitar 2.772 kilometer dan dorongan pemerintah pusat, Trans-Kalimantan kembali menjadi bagian dari agenda pengembangan transportasi nasional. Tahap berikutnya akan ditentukan oleh kesiapan perencanaan, kelayakan proyek, dan kemampuan pendanaan untuk merealisasikan jaringan tersebut.

WS
Winda SariEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update